PSIAB, bekerjasama dengan Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya telah menyelenggarakan konferensi internasional yang melibatkan para ilmuwan dan peneliti yang berasal dari berbagai negara. Bertemakan “Religion, War, and Peace: Nurturing a Peaceful Life in a Plural Society,” konferensi ini terselenggara dengan baik selama dua hari, dari tanggal 14-15 Oktober 2025 di Hotel Amaris, Surabaya.

Dr. Ferry Mamahit, berperan sebagai Direktur Eksekutif PSIAB dan Co-Chair Komite Konferensi, menyambut dan mengapresiasi seluruh partisipan yang telah berpartisipasi dalam acara ini. Apresiasi juga disampaikan secara khusus untuk seluruh Faculty Member FUF-UINSA yang telah bekerja sangat keras sehingga memungkinkan kegiatan yang sangat berharga ini dapat terlaksana.
Kiranya kerjasama ini tetap langgeng demi memproduksi keilmuwan yang bermanfaat di dalam masyarakat Indonesia yang plural. Seperti yang juga diungkapkan dalam sambutan Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D selaku Dekan FUF-UINSA, sifat keberlanjutan kegiatan ini akan menjadi bukti komitmen antara UINSA dengan PSIAB.
Konferensi ini menghadirkan berbagai ilmuwan dari beberapa negara, seperti Dr. Christopher M. Joll (New Zealand), Dr. Richard Stanford (United Kingdom), Dr. Robert John Pope (Australia), Dr. Iyad M. I. Aburabee (Palestine), Dr. Richard McCallum (United Kingdom), Dr. Georgina Jardim (United Kingdom), serta berbagai pembicara lain yang juga membagikan pikiran dan hasil penelitian mereka menurut bidang ilmu masing-masing.
Selain Dr. Ferry Mamahit, Arif Batee juga menjadi representasi PSIAB dalam konferensi ini. Keduanya menjadi narasumber yang membagikan pikiran mereka mengenai bagaimana komunitas Muslim-Kristen dapat menemukan ruang untuk bertemu dan berinteraksi satu sama lain untuk merawat masyarakat yang damai. Dalam sesi diskusi panel, Dr. Mamahit membagikan apa yang dilakukan oleh PSIAB sebagai sebagai Religious Enterpreneurs yang berusaha mengatasi berbagai konflik agama yang terjadi di dalam masyarakat, baik dalam dunia nyata dan dunia maya. Usaha ini dilakukan supaya relasi religius, khususnya relasi antara masyarakat Muslim dan Kristen dapat menjadi lebih erat lewat kegiatan akademis yang bukan saja merupakan ruang kosong bagi masalah-masalah keilmuan yang harus diselesaikan, tetapi juga sebagai cara yang inovatif untuk membangun relasi di antara kedua komunitas iman.
Sedangkan dalam sesi presentasi makalah, Arif Bate’e membagikan bagaimana Combat Sport telah berevolusi dengan sangat cepat dan menjadi ruang spiritual bagi para atlit dan penggemarnya. Arif mengusulkan bahwa Combat Sport dapat menjadi ruang dialog antar agama, dimana komunitas Muslim-Kristen dapat mempromosikan nilai perdamaian di dalam masyarakat. Usulan ini sendiri didukung oleh nilai spiritual yang tersedia dalam kedua komunitas agama yang dapat meredefinisi maskulinitas dalam bentuk integritas moral, kasih sayang, kekuatan yang bersumber dari sikap disiplin para atlit dan penggemarnya. Nilai etis-spiritual ini dianggap dapat berfungsi sebagai jembatan yang dapat mengubungkan perbedaan dan mendorong keharmonisan sosial dalam konteks Indonesia yang beragam.
Keterlibatan para peneliti dan ilmuwan dari berbagai bidang ilmu telah memperkaya wacana dan penerapan nilai perdamaian yang digagas melalui konferensi ini. Masyarakat yang damai adalah keadaan yang dicapai melalui kolaborasi yang mengapresiasi perbedaan, bersama dengan penerimaan yang membangun tenggang rasa dalam komunitas antar agama.
Penulis: Arif Bate’e

